pic1

Apresiasi

APRESIASI

 pic1

“Kenapa sepertinya kali ini saya terpukul telak, padahal sudah sering kali memar menerima pukulan yang sama?!!”

Mungkin memang craftsman sudah seharusnya mempunyai kemampuan seperti calo. Keuntungannya pasti akan jauh lebih besar, jika di analogikan kemunginan kondisinya mirip seperti pengusaha dengan buruhnya (di negara liberal), hanya saja pengusaha disana derajatnya lebih mendingan daripada jenis profesi yang satu ini. Bagaimana tidak, “yang kerja siapa? yang untung siapa!” haha ungkapan klise memang, tapi tetap saja relevan, namanya juga negara liberal.

Kali ini saya telah membantu teman saya, tapi bantuan itu secara langsung mendatangkan keuntungan besar bagi orang lain, jauh lebih besar dari keuntungan yang didapat teman saya. Tetapi bukannya bersyukur saya telah melakukan tindakan yang berguna bagi mereka, malahan saya tergoda jadi merasa iri dengan orang itu ketika mengetahui kondisinya seperti apa. Saya merasa tidak ada apresiasi terhadap kontribusi saya, bisa dikatakan dalam hal ini saya tidak ikhlas/ iri kepada orang tersebut, yang memang belum mempunyai sertifikat calo secara resmi namun memiliki bakat yang kuat didukung hati berlapis baja sepertinya.

Lalu faktor apa yang membuat saya merasa seperti itu. Pertama, latar belakang setiap manusia pasti membutuhkan bantuan, entah sehebat batman pun klo tidak ada back-up an finansial tidak mungkin ia punya kendaraan secanggih itu. Kedua, ketika kegiatan membantu tidak semudah membangunkan orang jatuh dijalan atau sekedar menolong menyebrangkan orang buta, dalam hal ini anda harus mempunyai special skill yang menuntun anda untuk melewati berbagai tahapan untuk akhirnya dapat membantu orang tersebut. Faktor terakhir yaitu respon/ reaksi positif/ feedback atau saya lebih suka menyebutnya sebagai apresiasi, yang satu ini adalah bagian paling vital dari 2 hal sebelumnya. karena ketika seseorang mendapatkan keuntungan tentunya ia juga secara otomamis di anugrahkan kemampuan untuk mengapresiasikan apa yang orang lain lakukan terhadapnya, entah metodenya memalui senyuman/ ucapan terimakasih.

Yahh apa boleh buat, boleh dibilang bantuan saya kali ini berbuah simalakama, bahkan pahala saya pun sudah pasti tercemar oleh penyakit hati saya sendiri. Kemungkinan besar yang akan saya lakukan nanti tidak membantu oranglain lagi, hahaha..

“…so don’t apologize, i’m losing what i don’t deserved…” -burning in the sky, Linkin Park.

11/05/11. munafik-ri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s