Sekelumit tentang garage rock

Garage rock bukan Garasi band dan tidak pula harus di garasi, sebaliknya Garasi juga bukan berarti Garage rock!

Makanya jangan pernah mengartikan garage rock dengan metode harfiah, karena kemungkinan besar anda akan menganggap bahwa band yang bernama GARASI sebagai panutan band garage rock, seperti layaknya METALLICA sebagai panutan band metal. Dan hanya orang “super jenius” yang bisa-bisanya dengan mudah menelan mentah asumsi seperti itu.

Jika ditelusuri secara historis memang garage rock bermula dari sekelompok anak muda yang (istilah gaulnya) ngeband di dalam garasi, kebiasaan ini sebenarnya sudah berlangsung sejak era tahun 60’an, tercatat band garage rock “? And The Mysterians” -yang kabarnya merupakan band pertama yang dideskipsikan dengan nama Punk Rock berdasarkan sound & attitude’nya oleh Dave Marsh- dengan single “96 Tears” mencapai puncak billboard pada tahun 1966. Mereka adalah salah satu band garage rock bisa diterima oleh khalayak ramai dari sekian banyaknya band garage rock yang memainkan / menciptakan lagu-lagunya di dalam garasi.

Dan memang agak rancu istilah garage rock ini lebih condong kepada musik atau subkultur band itu sendiri. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa garage rock adalah setiap band yang bermain band di dalam garasi, jadi setiap band yang awal mulanya ngeband di garasi maka mereka adalah band garage rock. Namun ada juga yang punya persepsi tidak sebatas itu, bahwa garage rock adalah anak tiri dari Rock and Roll karena bermula oleh band-band yang terinfluence dan memang kepinginnya bermain musik Rock and Roll (seperti Led Zepplin, Deep Purple, AC/DC, dll.) namun tidak kesampaian karena masalah teknis atau semacamnya, jadi mereka hanya mengadopsi beberapa unsur dari musik Rock and Roll itu sendiri untuk dimasukan kedalam lagu-lagu mereka, lalu dari situlah musik garage rock berkembang pesat dan mulai menemukan pakemnya sendiri hingga sekarang. Pada perkembangan dunia musik keseluruhan, musik garage rock pastinya mengalami pasang surut seperti halnya musik yang lain, terakhir garage rock mencapai puncaknya pada akhir 90’an ketika bermunculan band-band seperti The White Stripes, The Strokes, The Hives, The Vines, The Datsuns, Yeah Yeah Yeahs, Franz Ferdinand, The Mooney Suzuki, dll. Lalu di Indonesia sendiri tidak mau kalah dengan memiliki band-band seperti Teenage Death Star, The Brandals, The SIGIT, dan masih banyak lagi.

(question mark and the mysterians)

(the strokes)

(the white stripes)

(the hives)

Pengertian untuk pendapat yang pertama mungkin agak sulit untuk diterapkan di Indonesia. Bagaimana tidak, jika ingin main Garage rock berarti si band harus mempunyai garasi telabih dahulu?! sedangkan budaya anak band disini kalau main musik ya di rental studio musik bukannya di garasi, karena akan sangat mengganggu tetangga nantinya, lagipula secara umum arsitektur rumah / pemukiman orang Indonesia jarang sekali yang menyediakan ruangan seperti garasi yang tertutup apalagi kalau tidak punya mobil dan pada intinya ada 1001 kendala untuk bermain band di dalam garasi. Oleh karena itu ada baiknya kita menggunakan pendekatan persepsi yang kedua, yaitu mereferansikan diri sebanyak-banyaknya dengan band-band dedengkot pengusung musik dan attitude Rock and Roll, mudah-mudahan dengan berbekal doa yang banyak anda akan bisa mempunyai band garage rock independen yang paten.

(silahkan kita berdiskusi ria disini)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s